Banner

Selasa, 09 Agustus 2011

AGRIBISNIS SEBAGAI LANDASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA DALAM ERA MILLENIUM BARU 1

AGRIBISNIS SEBAGAI LANDASAN
PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA
DALAM ERA MILLENIUM BARU 1
Oleh : Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih2
Abstrak
Banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli dari berbagai bidang ilmu untuk
menjelaskan penyebab masalah sosial, politik, dan keamanan yang menimpa
Indonesia saat ini. Ada satu penyebab yang paling sering disebutkan, yaitu
adanya kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi. Namun menurut penulis
keterpurukan dan kesenjangan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat lebih
banyak disebabkan oleh kesalahan kebijakan pembangunan ekonomi di masa
yang lalu yang tidak dilandaskan pada kekuatan komparatif yang dimilikinya,
namun pada pembangunan industri yang bersifat hightech. Di samping itu
Indonesia menjadi tempat yang baik bagi industri yang mengandalkan
murahnya tenaga kerja (foot loose industry), yang mengakibatkan pembangunan
pertanian menjadi kurang memperoleh perhatian. Sedangkan sebagian
besar penduduk yang miskin ataupun yang berpendidikan rendah berada di
sektor pertanian ini. Pembangunan yang terjadi semakin memperkuat ketidak
adilan dan kesenjangan ekonomi yang semakin besar. Oleh sebab itu
diperlukan arah baru yang dapat menjamin tidak saja pertumbuhan ekonomi
dan kesempatan kerja (growth), tetapi juga dapat memperbaiki kondisi
kesenjangan (equity) yang ada selama ini, adalah tepat jika pembangunan
agribisnis memperoleh perhatian.
Kata kunci : pembangunan industri, pembangunan pertanian, komparatif,
kompetitif, agribisnis.
1 Makalah pengantar pada Seminar yang diselenggarakan oleh ICDS mengenai Prospek Sosial Ekonomi
Indonesia tahun 2000, pada hari Jum'at, 4 Februari 2000, di Hotel Preanger, Bandung.
2 Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Sumberdaya, Serta Kepala Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian
Institut Pertanian Bogor
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
2
Pendahuluan
Cover majalah Time untuk
tanggal 31 Januari 2000 menyajikan
gambar tempat ibadah yang hancur
dibakar masa di kota Mataram-
NTB. Judul yang diberikan untuk
halaman muka majalah itu cukup
mencolok, yaitu Madness, dengan
menggunakan huruf yang besar.
Dapat dibayangkan apa yang ada
dalam pikiran calon investor dari
luar negeri yang ingin menanamkan
modalnya di Indonesia pada saat
membaca berita utama tentang
Indonesia dalam majalah Time
tersebut yang berjudul Raging
Inferno. Sampai saat ini belum ada
berita yang memberikan perasaan
positif yang cukup panjang untuk
Indonesia. Berita yang muncul
dalam majalah atau surat kabar luar
negeri lebih banyak nilai negatif
daripada positifnya. Akibat dari
berita-berita tersebut dapat diperkirakan
cukup banyak calon
investor yang akan menunda
maksudnya untuk berinvestasi di
Indonesia. Dengan demikian
Indonesia perlu bekerja lebih keras
lagi untuk dapat memberikan
gambaran kepada investor luar
negeri bahwa Indonesia adalah
merupakan tempat yang aman dan
menguntungkan untuk berinvestasi.
Penyebab Krisis Ekonomi di
Indonesia
Banyak teori telah
dikemukakan oleh para ahli dari
berbagai bidang ilmu untuk
menjelaskan penyebab masalah
sosial, politik, dan keamanan yang
menimpa Indonesia saat ini. Ada
satu penyebab yang paling sering
disebutkan, yaitu adanya kesenjangan
dan ketidakadilan ekonomi.
Kesenjangan yang terjadi dapat
berupa kesenjangan antara: kotadesa,
pusat-daerah, Jawa-Luar Jawa,
Indonesia bagian barat-Indonesia
bagian timur, pengusaha besarpengusaha
kecil, ataupun pengusaha
pribumi dan pengusaha nonpribumi.
Penjelasan yang bernuansa
dikotomi ini memang yang paling
mudah untuk dapat diterima
khalayak, meskipun belum tentu
benar.
Keterpurukan dan kesenjangan
ekonomi yang dirasakan oleh
masyarakat lebih banyak disebabkan
oleh kesalahan kebijakan
pembangunan ekonomi di masa
yang lalu. Sejak pertengahan
dekade 1980-an Indonesia mulai
memusatkan perhatiannya pada
pembangunan industri yang bersifat
hightech. Dan di samping itu
Indonesia menjadi tempat yang baik
bagi industri yang mengandalkan
murahnya tenaga kerja (foot loose
industry). Pembangunan pertanian
menjadi kurang memperoleh
perhatian. Sedangkan sebagian
besar penduduk yang miskin
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
3
ataupun yang berpendidikan rendah
berada di sektor pertanian ini.
Bahkan pertanian lebih banyak
dikorbankan untuk dapat menunjang
pembangunan industri. Harga
produk pertanian, terutama pangan,
dijaga agar tidak mengalami
kenaikan yang berarti. Harga
pangan yang relatif rendah sangat
membantu sektor perekonomian
lainnya, terutama yang diperkotaan.
Harga pangan yang rendah
menyebabkan sektor industri dapat
memberi upah yang murah kepada
tenaga kerjanya, yang pada akhirnya
dapat meningkatkan daya saing
produknya. Sektor pertanian dan
pedesaan yang tidak berkembang
dan kurang menjanjikan pendapatan
yang layak akan mendorong
urbanisasi. Urbanisasi oleh masyarakat
yang kurang kecakapannya di
luar bidang pertanian akan
meningkatkan pengangguran di
perkotaan yang pada akhirnya
meningkatkan kriminalitas, penyakit,
dan kemerosotan moral. Lebih
jauh lagi tenaga kerja yang berasal
dari pedesaan yang bekerja di sektor
industri, yang memberi upah yang
murah, masih ada yang perlu
mengandalkan kiriman uang dari
keluarganya untuk mencukupi
kebutuhannya. Dengan demikian
terjadi subsidi tersembunyi sektor
pertanian (pedesaan) terhadap sektor
industri di perkotaan.
Arah pembangunan ekonomi
selalu digambarkan oleh perubahan
struktur yang pada awalnya
dominan pertanian menjadi ekonomi
yang berbasis industri. Pemikiran
ini yang pada dasarnya melandasi
arah pembangunan ekonomi di
Indonesia. Dari pengalaman banyak
negara yang saat ini dapat
digolongkan sebagai negara maju,
arah pembangunan tersebut
tampaknya tidak salah. Tetapi
keterpurukan ekonomi yang dialami
Indonesia saat ini dapat menjadi
tanda bahwa arah pembangunan
industri yang ditempuh Indonesia
tidak tepat. Keruntuhan dan
kemacetan yang dialami oleh
banyak perusahaan pada saat nilai
tukar rupiah merosot terhadap US
dollar, diduga terutama disebabkan
oleh tingginya bahan baku yang
berasal dari impor, sedangkan pasar
yang dituju sebagian besar adalah
domestik. Keadaan ini memperkuat
argumentasi bahwa arah pembangunan
industri di masa yang akan
datang adalah industri yang
berbahan baku domestik (pertanian).
Agribisnis Sebagai Penopang
Ekonomi Indonesia
Pembangunan ekonomi yang
tepat perlu didasarkan pada
keunggulan komparatif yang
dimiliki. Melalui proses pembangunan
yang bertahap dan
konsisten, keunggulan komparatif
ini dikembangkan menjadi
keunggulan kompetitif. Negara
yang berdaya saing adalah negara
yang mampu mengembangkan
keunggulan komparatifnya menjadi
keunggulan kompetitif. Indonesia
memiliki keunggulan komparatif
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
4
pada keanekaragaman sumberdaya
hayati. Kegiatan ekonomi yang
memanfaatkan keunggulan sumberdaya
hayati di Indonesia adalah
kegiatan pertanian dalam arti luas.
Oleh sebab itu Indonesia perlu
mengembangkan keunggulan
komparatif di bidang pertanian
menjadi keunggulan bersaing
melalui pengembangan industriindustri
yang mengolah hasil
pertanian dan mengembangkan
industri-industri hulu pertanian,
yang secara keseluruhan dikenal
sebagai pembangunan sistem
agribisnis.
Sistem agribisnis tidak sama
dengan sektor pertanian. Sistem
agribisnis jauh lebih luas daripada
sektor pertanian yang dikenal
selama ini. Sistem agribisnis terdiri
dari tiga subsistem utama, yaitu:
Pertama, subsistem agribisnis hulu
(upstream agribusiness) yang
merupakan kegiatan ekonomi yang
menyediakan sarana produksi bagi
pertanian, seperti industri dan
perdagangan agrokimia (pupuk,
pestisida, dll), industri agrootomotif
(mesin dan peralatan), dan
industri benih/bibit.
Kedua, subsistem usahatani
(on-farm agribusiness) yang
merupakan kegiatan ekonomi yang
menggu-nakan sarana produksi yang
dihasilkan oleh subsistem agribisnis
hulu untuk menghasilkan produk
pertanian primer. Termasuk ke
dalam subsistem usahatani ini
adalah usaha tanaman pangan, usaha
tanaman hortikultura, usaha
tanaman obat-obatan, usaha
perkebunan, usaha perikanan, usaha
peternakan, dan kehutanan.
Ketiga, subsistem agibisnis
hilir (down-stream agribusiness)
yang berupa kegiatan ekonomi yang
mengolah produk pertanian primer
menjadi produk olahan, baik produk
antara maupun produk akhir, beserta
kegiatan perdagangan di pasar
domestik maupun di pasar
internasional. Kegiatan ekonomi
yang termasuk dalam subsistem
agibisnis hilir ini antara lain adalah
industri pengolahan makanan,
industri pengolahan minuman,
industri pengolahan serat (kayu,
kulit, karet, sutera, jerami), industri
jasa boga, industri farmasi dan
bahan kecantikan, dan lain-lain
beserta kegiatan perdagangannya.
Disamping ketiga subsistem di atas,
diperlukan subsistem keempat
sebagai bagian dari pembangunan
sistem agribisnis.
Subsistem keempat ini
dikenal sebagai subsistem penunjang.
Subsistem penunjang adalah
seluruh kegiatan yang menyediakan
jasa bagi agribisnis, seperti lembaga
keuangan, lembaga penelitian dan
pengembangan, lembaga transportasi,
lembaga pendidikan, dan
lembaga pemerintah (kebijakan
fiskal dan moneter, perdagangan
internasional, kebijakan tata-ruang,
serta kebijakan lainnya).
Peranan agribisnis dalam
perekonomian Indonesia sangat
penting. Memang belum ada data
kuantitatif yang secara eksplisit
dapat menggambarkan peranan
agribisnis ini. Agribisnis tidak
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
5
digambarkan sebagai suatu sektor
yang secara jelas tercatat
kontribusinya dalam pembentukan
PDB ataupun penyerapan tenaga
kerja. Sehingga diperlukan
penghitungan ulang terhadap datadata
yang ada yang disesuaikan
dengan definisi agribisnis.
Berdasarkan informasi dan data
yang terbatas tersebut, peranan
agribisnis dalam ekonomi Indonesia
dapat digambarkan sebagai berikut
ini.
Pertama, peranan agribisnis
dalam pembentukan PDB. Sampai
saat ini non-migas menyumbang
sekitar 90 persen PDB, dan
agribisnis merupakan penyumbang
terbesar dalam PDB non-migas.
Diperkirakan kontribusi agribisnis,
dalam PDB non-migas, mencapai
80.5 persen pada tahun 1995 dan
menjadi sekitar 70 persen pada
tahun 1997.
Kedua, peranan agribisnis
dalam penyerapan tenaga kerja.
Karakteristik teknologi yang
digunakan dalam agribisnis bersifat
akomodatif terhadap keragaman
kualitas tenaga kerja, sehingga tidak
mengherankan agribisnis menjadi
penyerap tenaga kerja nasional yang
terbesar. Pada tahun 1987 sekitar
78 persen tenaga kerja berada di
bidang agribisnis, dimana sektor
pertanian menjadi penyerap yang
terbesar, yaitu 55 persen.
Diperkirakan pada tahun 1997
agribisnis masih menyerap sekitar
73 persen dan pada tahun 1998
diperkirakan melonjak menjadi 80
persen.
Ketiga, peranan agribisnis
dalam perolehan devisa. Selama ini
selain ekspor migas, hanya
agribisnis yang mampu memberikan
net-ekspor secara konsisten.
Bahkan sejak 1993 net-ekspor
agribisnis telah mampu melampaui
net-ekspor migas. Net-ekspor agribisnis
terus mengalami kenaikan,
dan pada tahun 1997 mencapai
sekitar US$ 13 milyar.
Keempat, peranan agribisnis
dalam penyediaan bahan pangan.
Ketersediaan berbagai ragam dan
kualitas pangan dalam jumlah pada
waktu dan tempat yang terjangkau
masyarakat merupakan prasyarat
penting bagi keberhasilan pembangunan
di Indonesia. Sejarah
modern Indonesia menunjukkan
bahwa krisis pangan secara
langsung mempengaruhi kondisi
sosial, politik, dan keamanan
nasional.
Kelima, peranan agribisnis
dalam mewujudkan pemerataan
hasil pembangunan (equity).
Pemerataan pembangunan sa-ngat
ditentukan oleh 'teknologi' yang
digunakan dalam menghasilkan
output nasional, yaitu apakah bias
atau pro terhadap faktor-faktor
produksi yang dimiliki oleh rakyat
banyak. Saat ini faktor produksi
yang banyak dimiliki oleh sebagian
besar rakyat adalah sumberdaya
lahan, flora dan fauna, serta
sumberdaya manusia. Untuk mewujudkan
pemerataan di Indonesia
perlu digunakan 'teknologi' produksi
output nasional yang banyak
menggunakan sumberdaya tersebut,
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
6
yaitu agribisnis. Melalui pembangunan
agribisnis, yang
sumberdayanya tersebar di seluruh
pelosok tanah air, diharapkan
mampu melibatkan partisipasi
seluruh wilayah dan rakyat
Indonesia dan sekaligus ikut
menikmati outputnya melalui
pendapatan yang diperoleh dari
pembayaran faktor produksi.
Keenam, peranan agribisnis
dalam pelestarian lingkungan.
Kegiatan agibisnis yang berlandaskan
pada pendayagunaan keanekaragaman
ekosistem di seluruh tanah
air memiliki potensi melestarikan
lingkungan hidup. Peranan agribisnis
dalam pelestarian lingkungan
ini sudah disadari oleh banyak
negara. Jepang, dimana perekonomiannya
tidak lagi berbasis
agribisnis, berupaya mempertahankan
sekitar 30 persen wilayahnya
sebagai wilayah pertanian guna
menjaga keseimbangan alamnya.
Pembangunan agribisnis di
masa yang lalu banyak mengalami
hambatan kebijakan. Salah satu
kebijakan yang sangat merugikan
agribisnis adalah kebijakan yang
mengakibatkan nilai rupiah menjadi
terlalu tinggi (overvalued exchange
rate). Nilai rupiah yang terlalu
tinggi identik dengan memberikan
'subsidi' nilai tukar bagi kegiatan
impor dan sekaligus membebani
'pajak' nilai tukar bagi aktivitas
ekspor. Impor bahan baku dan
bahan penolong yang diperlukan
industri (substitusi impor ataupun
footloose) menjadi relatif lebih
murah dalam rupiah. Sebaliknya
produk ekspor Indonesia menjadi
relatif mahal dalam mata uang
asing. Dapat diperkirakan keadaan
ini menyebabkan impor meningkat
dan ekspor terhambat, sehingga
terjadi defisit transaksi berjalan.
Nilai tukar rupiah yang over valued
ini merugikan agribisnis nasional,
terutama subsistem usahatani. Nilai
tukar yang over valued ini
menghambat ekspor komoditas
pertanian, sehingga beberapa
komoditas yang pernah menjadi
andalan ekspor Indonesia seperti
gula, jagung, dan daging sapi
berubah menjadi komoditas impor.
Meningkatnya impor dan
terhambatnya ekspor (karena rupiah
yang overvalued) menyebabkan
harga produk pertanian secara relatif
menurun. Keadaan ini ditunjukkan
oleh rasio harga produk pertanian
dengan harga produk industri yang
semakin turun dari tahun ke tahun.
Tekanan harga ini diperparah oleh
peningkatan produktivitas pertanian
domestik, sebagai akibat dari
pembangunan irigasi, perbaikan
teknologi, subsidi input dan kredit.
Akibat dari permintaan produk
pertanian yang tidak meningkat
secepat peningkatan produksi,
pertanian domestik menghadapi
paradoks produktivitas, dimana
peningkatan produksi justru dapat
merugikan petani. Harga relatif
pertanian yang menurun mencerminkan
profitabilitas pertanian yang
relatif turun dibandingkan dengan
non-pertanian. Dengan suku bunga
domestik yang tinggi selama ini,
investasi di bidang pertanian
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
7
menjadi kurang menarik. Hal ini
dicerminkan oleh alokasi investasi
PMA, dan PMDN di pertanian yang
menurun. Lebih jauh lagi keadaan
tersebut menyebabkan sumberdaya
pertanian, khususnya lahan, menjadi
dinilai terlalu rendah sehingga lahan
pertanian dengan mudah mengalami
konversi untuk dimanfaatkan bidang
non-pertanian. Selama periode
1983 - 1993 diperkirakan terjadi
konversi lahan seluas 1.1 juta
hektar, dan yang paling banyak
terjadi di pulau Jawa.
Strategi Pengembangan Agribisnis
Pembangunan agribisnis
juga dipengaruhi oleh faktor fisik.
Faktor fisik, seperti tanah dan iklim,
akan menentukan pola produksi
agribisnis. Besarnya keragaman
fisik-kimia tanah dan keragaman
iklim dapat menyulitkan pengembangan
usaha yang berbasis
tanaman, terutama biji-bijian
(grains), dalam skala yang luas.
Disamping itu subsistem usaha tani
di Indonesia cenderung didominasi
oleh usaha-usaha yang berskala
kecil yang menghasilkan produk
dengan variasi yang cukup tinggi
dalam hal kuantitas maupun
kualitas. Kondisi ini menyebabkan
transaction cost menjadi komponen
yang penting. Oleh sebab itu
pembangunan kelembagaan di
sektor agribisnis menjadi faktor
yang cukup penting, agar
keunggulan komparatif agribisnis
Indonesia dapat dikembangkan
menjadi keunggulan kompetitif.
Perkembangan agribisnis di
Indonesia tidak saja dipengaruhi
oleh faktor domestik (internal),
tetapi juga sangat dipengaruhi oleh
faktor internasional (eksternal).
Paling tidak ada empat faktor
eksternal yang perlu dicermati yang
dapat mempengaruhi pembangunan
agribisnis.
Pertama, aktivitas ekonomi
regional dan dunia. Ekspor produk
agribisnis Indonesia pada umumnya
masih merupakan produk primer,
sehingga sangat dipengaruhi oleh
harga dunia. Sedangkan harga
dunia ini sangat dipengaruhi oleh
tingkat aktivitas ekonomi dunia.
Suatu studi tahun 1986, yang
dilakukan OECD, menunjukkan
penurunan pertumbuhan ekonomi di
negara maju sebesar 1 % per tahun
akan menurunkan harga-harga
komoditas pertanian sekitar 6
persen. Sedangkan tujuan ekspor
produk pertanian Indonesia terutama
adalah ke negara maju.
Kedua, kebijakan produksi
dan perdagangan di masing-masing
negara. Produksi pertanian (terutama
pangan) cenderung bersifat
subsisten, yaitu masing-masing
negara ingin memenuhi kebutuhannya
melalui produksi domestik.
Keadaan ini diperkuat oleh sikap
perdagangan produk pangan
masing-masing negara yang
cenderung protectionist. Gabungan
antara sikap subsisten dan proteksi
ini menyebabkan harga dunia
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
8
komoditas pertanian cenderung
berfluktuasi relatif besar.
Ketiga, kebijakan ekonomi
makro internasional. Kebijakan
ekonomi makro negara-negara besar
dapat mempengaruhi stabilitas
perdagangan dunia, yang tentunya
berpengaruh pada profitabilitas
produk agribisnis Indonesia. Hal
yang penting untuk diperhatikan
adalah perbedaan kebijakan antar
negara yang dapat merubah
exchange rate, yang pada akhirnya
dapat merubah harga-harga
komoditas dunia.
Keempat, kesepakatankesepakatan
perdagangan regional
maupun dunia. Perlu dicermati
berbagai klausul dalam kesepakatan-
kesepakatan tersebut yang dalam
jangka panjang dapat menjadi
penghambat pertumbuhan pembangunan
agribisnis di Indonesia, jika
Indonesia tidak mampu
memenuhinya. Diharapkan
Indonesia mampu menikmati
benefits yang ditimbulkan oleh
perdagangan dunia yang semakin
terbuka. Berdasarkan studi yang
disampaikan pada pertemuan OECD
pada bulan Mei 1999 di Paris
ditunjukkan bahwa pengurangan
hambatan sebesar 50 persen dalam
per-dagangan dunia produk
pertanian, industri, dan jasa akan
mampu meningkatkan ekonomi
dunia sebesar US$ 406 milyar per
tahun. Berdasarkan studi tersebut,
sektor pertanian akan memperoleh
manfaat sebesar US$ 90 milyar per
tahun. Yang menjadi pertanyaan
adalah berapa besar agribisnis
Indonesia mampu meraih
bagiannya? Agar produk agribisnis
Indonesia mampu bersaing dengan
produk negara lainnya, maka
kebijakan pemerintah terhadap
funding of research and
development perlu diperbaiki.
Melalui dana penelitian yang
memadai, tidak saja diciptakan
inovasi proses, tetapi juga inovasi
produk agribisnis. Dengan
demikian tidak saja produktivitas
meningkat, tetapi permintaan juga
dapat ditingkatkan. Alokasi dana
yang lebih banyak untuk perbaikan
infrastruktur di pedesaan juga
diharapkan akan menguntungkan
bagi pembangunan agribisnis di
Indonesia.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian ringkas
di atas dapatlah dikatakan bahwa
arah pembangunan ekonomi
Indonesia pada masa yang lalu tidak
tepat, karena tidak dilandaskan pada
kekuatan komparatif yang
dimilikinya. Pembangunan yang
terjadi ternyata memperkuat
perasaan adanya ketidakadilan dan
kesenjangan ekonomi yang semakin
besar. Oleh sebab itu diperlukan
arah baru yang dapat menjamin
tidak saja pertumbuhan ekonomi
dan kesempatan kerja (growth),
tetapi juga dapat memperbaiki
kondisi kesenjangan (equity) yang
ada selama ini. Untuk tahap
perekonomian Indonesia saat ini dan
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol 2, No.1/Feb. 2000, 1-9
9
pada masa yang akan datang adalah
tepat jika pembangunan agribisnis
memperoleh perhatian. Karakteristik
agribisnis yang “ramah”
terhadap keanekaragaman sumberdaya
dan kelembagaan yang ada
antar daerah juga compatible
dengan arus besar desentralisasi dan
otonomi yang sedang diterapkan di indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar