Banner

Selasa, 17 Mei 2011

Riset: Penampilan Pengaruhi Karier Wanita

Wanita Karier
Berpenampilan menarik sangat membantu wanita mendapat pekerjaan lebih baik. Benarkah? Wanita sering dipandang sebelah mata di lingkungan kerjanya. Tak dapat dipungkiri seksisme masih menggejala di sejumlah tempat kerja. Seksisme membuat penilaian berdasarkan penampilan, bukan kemampuan.

Survei membuktikan bahwa hampir setengah wanita mengatakan fenomena tersebut masih terjadi. Sebanyak 44 persen mengatakan, rekan kerja pria bahkan telah membuat komentar yang tidak tepat mengenai penampilan mereka.

Marie Claire melakukan survei terhadap 3.000 wanita pekerja, yang menjadikan tempat kerja sebagai medan pertempuran untuk mendapat bayaran, promosi jabatan, dan tempat menghabiskan waktu.

Sebesar 46 persen wanita dengan rentang usia 18 hingga 55 tahun merasa mengalami seksisme. Hampir 63 persen dari responden juga percaya bahwa usia wanita menjadi masalah utama di tempat kerja, tidak seperti pria.

Berdasar kuesioner yang disebar, sebanyak 78 persen responden mengatakan bahwa memiliki penampilan menarik sangat membantu mereka mendapatkan pekerjaan lebih baik. Sedangkan 60 persen mengatakan bahwa wanita yang mengalami obesitas, atau gemuk menerima diskriminasi di tempat kerja.

Seperti dikutip dari Daily Mail, sekitar 60 persen wanita berpikir bahwa pria lebih sering mendapatkan kenaikan gaji. Bahkan, lebih dari 58 persen percaya telah kehilangan kesempatan promosi jabatan karena keberadaan rekan kerja pria.

Psikolog dan penulis terkemuka Ros Taylor mengatakan, masih terdapat ketidaksetaraan di mana petinggi perusahaan lebih melihat kinerja pekerja pria dibandingkan wanita. "Masalah utamanya adalah kesetaraan. Biasanya, pria dengan jabatan tinggi cenderung mempekerjakan dan mempromosikan pria yang mirip dengannya," ucapnya.

Profesor Taylor juga memberikan saran untuk melakukan diskriminasi positif seperti yang terjadi di Norwegia. Di negara tersebut, berlaku sistem kuota yang menegaskan presentasi staf perempuan, dan petinggi wanita dalam sebuah perusahaan.

Namun, lebih dari 53 persen responden tidak percaya hal tersebut adalah cara terbaik untuk memastikan keterwakilan wanita dalam sebuah pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar