Banner

Kamis, 04 November 2010

Korupsi = Nyontek (Cheat)

Menyontek… siapa yang tidak tahu ? Kebiasaan ini tumbuh subur pada dunia pendidikan di negeri ini. Dari tingkat SD, SMP,SMA, sampai bangku kuliah, bahkan guru-guru yang sambil kuliahpun jago nyontek.

Menurut Wikipedia nyontek (cheating) merupakan tindakan bohong, curang, penipuan guna memperoleh keuntungan tertentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Meski tidak ditunjang dengan bukti empiris, banyak orang menduga bahwa maraknya korupsi di Indonesia sekarang ini memiliki korelasi dengan kebiasaan menyontek yang dilakukan oleh pelakunya pada saat dia mengikuti pendidikan. MASUK AKAL!

Sebenarnya, secara formal setiap sekolah atau institusi pendidikan lainnya pasti telah memiliki aturan baku yang melarang para siswanya untuk melakukan tindakan nyontek. Namun kadang kala dalam prakteknya sangat sulit untuk menegakkan aturan yang satu ini. Pemberian sanksi atas tindakan nyontek yang tidak tegas dan konsisten merupakan salah satu faktor maraknya perilaku nyontek. Lha gimana mau kondisi sekarang guru kok pura-pura tidak melihat dan pura-pura tidak mendengar karena takut dibenci siswa,, tentu saja IRONIS sekali bukan?

Tindakan nyontek (plagiasi) semakin subur dengan hadirnya internet, ketika siswa atau mahasiswa diberi tugas oleh guru atau dosen untuk membuat makalah banyak yang meng-copy- paste berbagai tulisan yang ada dalam internet secara bulat-bulat. Mungkin masih agak lumayan kalau tulisan yang di-copy-paste-nya itu dipahami terlebih dahulu isinya, seringkali tulisan itu langsung diserahkan kepada guru/dosen, dengan sedikit editing menggantikan nama penulis aslinya dengan namanya sendiri. Dan ini menjadi kebanggaan seolah-olah tulisan itu hasil karyanya.

Yang lebih mengerikan justru tindakan nyontek dilakukan secara terencana dan konspiratif antara siswa dengan guru, tenaga kependidikan (baca: kepala sekolah, birokrat pendidikan, pengawas sekolah, dll) atau pihak-pihak lainnya yang berkepentingan dengan pendidikan, seperti yang terjadi pada saat Ujian Nasional. Jelas, hal ini merupakan tindakan amoral yang sangat luar biasa, justru dilakukan oleh orang-orang yang berlabelkan “pendidikan”. Mereka secara tidak langsung telah mengajarkan kebohongan kepada siswanya, dan telah mengingkari hakikat dari pendidikan itu sendiri.

Di lain pihak, para orang tua siswa pun dan mungkin pemerintah setempat sepertinya berterima kasih dan memberikan dukungan atas “bantuan yang diberikan sekolah” kepada putera-puterinya pada saat mengisi soal-soal ujian nasional.

Padahal sekolah-sekolah seperti ini sudah semestinya ditandai sebagai sekolah berbahaya, karena dari sekolah-sekolah semacam inilah kelak akan lahir generasi masa depan pembohong dan penipu yang akan merugikan banyak orang.

Secara psikologis, mereka yang melakukan perilaku nyontek pada umumnya memiliki kelemahan dalam perkembangan moralnya, mereka belum memahami dan menyadari mana yang baik dan buruk dalam berperilaku. Selain itu, perilaku nyontek boleh jadi disebabkan pula oleh kurangnya harga diri dan rasa percaya diri (ego weakness). Padahal kedua aspek psikologi inilah yang justru lebih penting dan harus dikembangkan melalui pendidikan untuk kepentingan keberhasilan masa depan siswanya.

Sebuah penelitian yang pernah dilakukan Rutgers University Amerika Serikat menunjukkan bahwa 66 persen dari 16.000 mahasiswa bergengsi di negara tersebut mengakui pernah menyontek, paling tidak sekali-sekali.

"Penelitian yang dilakukan tahun 1991 itu, 12 persen diantara mahasiswa mengaku melakukan tindakan nyontek secara reguler," kata Dr I Nyoman Darma Putra, dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana, di Denpasar, Senin.

Ketika tampil sebagai pembicara pada sarasehan Plagiatisme dan kejujuran akademik yang digelar forum gurubesar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, ia mengatakan hasil penelitian tersebut menunjukkan tujuh dari sepuluh mahasiswa menyontek, dan paling tidak satu diantaranya menyontek sepanjang waktu.

Data yang disampaikan "Psyhological Record" tahun 1997 itu juga menunjukkan sebanyak 36 persen mahasiswa tingkat sarjana mengakui melakukan tindak plagiatisme.

Darma Putra menambahkan, jika penelitian serupa dilakukan di Indonesia, bisa jadi hasilnya lebih mencengangkan. Hal itu didasari atas sering terdengarnya seorang dosen yang mengurus kenaikan pangkat mereka ke guru besar diminta untuk membuktikan, bahwa mereka tidak melakukan plagiatisme.

Permintaan tersebut mengindikasikan bahwa dalam berkas yang mereka kumpulkan ada indikasi menyotek atau mengakui karya orang lain sebagai milik sendiri, ujar Darma Putra.

Wah kalo udah gini ngeri banget dunia pendidikan kita, pantas pendidikan kita terpuruk..dan budaya bodoh yang disebut korup tetap SUBUR!

Diadaptasi oleh Hadi Tzu dari:  Republika Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar