Banner

Selasa, 17 Mei 2011

Riset: Orang Culun di SMA Biasanya Sukses

ilustrasi anak sekolah
Mereka yang tidak populer di masa sekolah cenderung terlatih mempertahankan karakternya. Mereka yang tidak populer dan cenderung culun di masa sekolah memiliki tiket sukses di masa depan. Begitulah inti buku berjudul 'The Geeks Shall Inherit the Earth' karya Alexandra Robbins.

Mungkin Anda ingat bagaimana zaman sekolah dulu. Apakah Anda seorang culun yang tidak mengerti tren busana, gaya, bahkan asmara. Lalu, apakah kini Anda merasa lebih sukses daripada teman yang lebih gaul saat itu?

Alexandra Robbins menghabiskan waktu setahun mengamati murid-murid di sejumlah sekolah negeri dan swasta. Ia mencari tahu penyebab anak-anak populer dan berpengaruh di sekolah, cenderung tidak sukses setelah lulus.

Ia membedakan popularitas dalam dua kategori, yaitu 'dianggap populer' ketika orang berada di atas hirarki sosial, dan 'popularitas sebenarnya' ketika orang benar-benar disukai banyak orang.

Robbins fokus pada masalah di balik popularitas pada masa sekolah yang seketika menguap setelah menginjakkan kaki di luar sekolah. Dan, mengapa orang tidak populer seperti kutu buku memiliki lebih banyak peluang sukses dibandingkan orang-orang populer.

Mereka yang tidak populer umumnya memiliki masalah beradaptasi dengan teman-temannya. Namun, beberapa perusahaan termasuk Yahoo lebih memprioritaskan untuk mempekerjakan orang-orang seperti itu untuk menghindari pemikiran populer.

Uniknya, banyak artis papan atas dunia atau pesohor yang ternyata termasuk golongan tidak populer saat masih sekolah. Sebut saja Steven Spielberg yang sering diejek karena seorang Yahudi. Lady Gaga yang disebut-sebut 'gila'. Ketidakpopuleran tersebut justru membuat mereka tenar.

Robbins mengatakan, mereka yang tidak populer cenderung lebih bisa 'menginjak tanah'. Mereka lebih sadar diri, jauh lebih jujur, dan lebih berani ketimbang mereka yang populer. Ini karena, mereka yang tidak populer dapat bertahan dalam kondisi dan situasi yang tidak mendukung mereka.

Coba tengok salah satu sekolah di Arkansas, banyak remaja putri yang mewajibkan anggota gengnya menggunakan high heels, barang-barang bermerek, dan melapor berat badan mereka setiap hari. Mereka tak sadar, sifat-sifat seperti ini yang akan menjadi racun di kemudian hari.

Namun, bagi orang-orang tidak populer hal itu bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan. "Anda akan cenderung membiarkan orang lain menekan untuk melakukan suatu perintah, dan hal inilah yang berguna di masa
depan," ujarnya.

Namun sayangnya, Robbins tidak menawarkan data-data dari asumsinya yang menghubungkan standarisasi dan definisi jelas mengenai popularitas.

Riset: Penampilan Pengaruhi Karier Wanita

Wanita Karier
Berpenampilan menarik sangat membantu wanita mendapat pekerjaan lebih baik. Benarkah? Wanita sering dipandang sebelah mata di lingkungan kerjanya. Tak dapat dipungkiri seksisme masih menggejala di sejumlah tempat kerja. Seksisme membuat penilaian berdasarkan penampilan, bukan kemampuan.

Survei membuktikan bahwa hampir setengah wanita mengatakan fenomena tersebut masih terjadi. Sebanyak 44 persen mengatakan, rekan kerja pria bahkan telah membuat komentar yang tidak tepat mengenai penampilan mereka.

Marie Claire melakukan survei terhadap 3.000 wanita pekerja, yang menjadikan tempat kerja sebagai medan pertempuran untuk mendapat bayaran, promosi jabatan, dan tempat menghabiskan waktu.

Sebesar 46 persen wanita dengan rentang usia 18 hingga 55 tahun merasa mengalami seksisme. Hampir 63 persen dari responden juga percaya bahwa usia wanita menjadi masalah utama di tempat kerja, tidak seperti pria.

Berdasar kuesioner yang disebar, sebanyak 78 persen responden mengatakan bahwa memiliki penampilan menarik sangat membantu mereka mendapatkan pekerjaan lebih baik. Sedangkan 60 persen mengatakan bahwa wanita yang mengalami obesitas, atau gemuk menerima diskriminasi di tempat kerja.

Seperti dikutip dari Daily Mail, sekitar 60 persen wanita berpikir bahwa pria lebih sering mendapatkan kenaikan gaji. Bahkan, lebih dari 58 persen percaya telah kehilangan kesempatan promosi jabatan karena keberadaan rekan kerja pria.

Psikolog dan penulis terkemuka Ros Taylor mengatakan, masih terdapat ketidaksetaraan di mana petinggi perusahaan lebih melihat kinerja pekerja pria dibandingkan wanita. "Masalah utamanya adalah kesetaraan. Biasanya, pria dengan jabatan tinggi cenderung mempekerjakan dan mempromosikan pria yang mirip dengannya," ucapnya.

Profesor Taylor juga memberikan saran untuk melakukan diskriminasi positif seperti yang terjadi di Norwegia. Di negara tersebut, berlaku sistem kuota yang menegaskan presentasi staf perempuan, dan petinggi wanita dalam sebuah perusahaan.

Namun, lebih dari 53 persen responden tidak percaya hal tersebut adalah cara terbaik untuk memastikan keterwakilan wanita dalam sebuah pekerjaan.